Bogor.
Bogor.
Beberapa orang mungkin memiliki tempat untuk bersembunyi,
tempat untuk sejenak beristirahat dari sibuknya dunia, tempat untuk menghilang
sementara dari beberapa orang, dan tempat untuk sekedar menenangkan diri.
Bogor, bagiku bukan hanya sekedar tempat untuk berkuliah,
tapi juga tempat untuk beristirahat. Dari banyaknya kenyataan yang perlu
dihadapi, kenyataan yang sulit untuk diterima, tempat itu menjadi saksi
bagaimana aku merebah diri, bergelut dengan diriku sendiri, hingga mencoba
untuk berdamai dengan sendiri.
Banyak kenangan yang terjadi disana, mulai dari tempat baru,
teman baru, suasana baru, perasaan baru, ketakutan dan kekhawatiran yang baru.
Semua menjadi memori yang membekas.
Saat aku kehilangan diriku, aku datang ke Bogor tanpa
memiliki harapan apapun. Hanya membawa diriku yang kosong dan emosi yang buruk
untuk bergelut dengan studiku. Emosi buruk yang sebelumnya aku rasakan,
perlahan berkurang, dan akhirnya semakin berkurang.
Pandemi yang terjadi, akhirnya membuat aku harus pergi dari
sana, beranjak ke kampung halamanku. Saat itulah, aku merasa bahwa Bogor adalah
tempat yang aku tuju untuk beristirahat. Tempat aku untuk menenangkan diriku,
sendiri.
Sebutan Bogor sebagai Kota Hujan pun menjadi salah satu hal
yang membuat aku betah tinggal disana. Hujan adalah sesuatu yang aku suka.
Terutama saat mendengan rintikan hujan yang deras. Memang menyusahkan jika
hujan turun disaat jemuran masih menggantung di luar, atau disaat pulang kuliah
dan tidak membawa payung, atau disaat harus melewati jalan-jalan yang becek
sedangkan sepatumu sudah bocor, atau disaat harus datang pada sebuah acara dan
hujan tak kunjung berhenti. Namun begitu, rintikan hujan tetap menjadi salah
satu favoritku untuk membantu aku merasa tenang.
Namun sekarang, masa kosanku telah habis dan sudah tidak bias
lagi tinggal disana. Meski hanya tinggal 1,5 tahun, sudah banyak kenangan yang
terukir. Semoga suatu saat bisa berjumpa lagi dengan Bogor.
See you, Bogor.

Komentar
Posting Komentar