The Struggle is Reality.
The struggle is
reality.
Ada
banyak hal yang ingin kita coba
Dan
akan ada banyak rintangan dalam perjalannanya.
Mimpi setiap orang berbeda. Tergantung pada setiap
kebutuhan dan keinginannya. Mimpi untuk memiliki uang yang banyak agar bisa
membeli apapun, mimpi untuk travelling
ke seluruh dunia, mimpi untuk menjadi terkenal, mimpi untuk membeli mobil
termahal, mimpi untuk memiliki rumah sendiri, mimpi untuk membangun sebuah
keluarga yang harmonis, mimpi untuk berkuliah di universitas favorit, dan
banyak mimpi-mimpi lainnya.
Tapi kenyataannya, dalam mencapai mimpi
tersebut, akan ada banyak rintangan yang perlu dilalui. Dan mungkin beberapa
orang sudah mulai takut dan mundur karena melihat begitu rumitnya proses dan
rintangan yang harus dijalani. Begitupun saya.
Dalam proses menjalani “mimpi” saya, akan ada
hari-hari dimana saya lelah, ingin menyerah, ragu, dan berpikir bagaimana cara
untuk menghindarinya. Disaat seperti itu, dulu, saya berpikir bahwa itu tidak wajar,
saya berpikir bahwa saya tidak boleh mengeluh dan harus tetap semangat dalam
mengerjakan “mimpi” saya. Saya menuntut diri untuk terus berjuang tak kenal
lelah. Sampai akhirnya, saya sadar, bahwa istirhat itu dibutuhkan. Menjadi
ambisius bukan hal yang salah, itu bagus, tapi ada kalanya saya harus berhenti
sejenak. Mengistirahatkan diri dari ambisi.
Dulu, saya berpikir bahwa menjadi bahagia dan
selalu positif itu lebih baik dan menyenangkan. Tapi kenyataanya, perasaan negatif
dan pikiran yang berkepanjangan
(re-overthinking), merupakan hal-hal yang perlu ada di hidup saya. Hal tersebut
menjadikan hidup saya lebih memiliki makna.
Perasaan negative, overthinking, takut, ragu,
merupakan rintangan yang pasti akan dilalui dalam mencapai “mimpi”. Lalu
pertanyaannya, apakah saya atau kamu siap dan mampu menjalaninya?.
Realita
bahwa kamu akan terjatuh, bangkit, terjatuh lagi, akan terus dijalani. Bahkan itu
adalah hal yang wajar.
Realita
bahwa kamu akan menghadapi perasaan positif dan negative [ada setiap prosesnya.
Realita
bahwa ternyata nantinya, mungkin kamu akan menyerah.
Realita
bahwa ternyata, pada akhirnya kamu akan mencapai mimpi tersebut.
Dan
realita bahwa ternyata, prose mencapi mimpi bukanlah proses yang mudah.
Jadi, apakah
kamu atau saya mampu melewatinya?

Apa yang akan terjadi jika akhir kalimatnya kamu dan saya mampu melewatinya?
BalasHapus